• Sejarah Talang Sari Lampung

    Oleh RIYANTO Mantan Komandan Pasukan Khusus GPK Warsidi.

  • AZWAR KAILI

    Azwar Kaili sosok kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, pada tahun 1942 ini kerap muncul setiap ada gerakan KONTRAS yang mengeksploitasi kasus Talangsari 1989.

  • ALLAN NAIRN

    Allan Yoseph Nairn kelahiran Morristown, New Jersey, Amerika Serikat, (tahun 1956).

  • EDI ARSADAD

    Siapa Edi Arsadad? Sebelumnya sosok ini lebih dikenal dengan nama UJANG..

  • RIYANTO WARSIDI

    RIYANTO mantan Komandan Pasukan Khusus GPK Warsidi, lahir di Desa Comal, Jawa Tengah pada tanggal 02 Februari 1951. .

Allan Nairn Agen Proxy War


Published on Jan 14, 2017
Allan Yoseph Nairn kelahiran Morristown, New Jersey, Amerika Serikat, (tahun 1956), mendasarkan tulisannya tentang Prabowo pada laporan Commission for Reception, Truth and Reconciliation in East Timor (CAVR) PBB. CAVR menyebutkan, saat Prabowo berdinas di Timor Timur terjadi pembantaian di Kampung Krakas, Pegunungan Bibileo, pada September 1983.

Share:

Kasus Talangsari dan Jama’ah Islamiyah




Oleh RIYANTO (Mantan Komandan Pasukan Khusus GPK Warsidi)

DJOHAN Effendi pada harian Kompas edisi 7 November 2002, melalui tulisannya berjudul Jamaah Islamiyah dan Abdullah Sungkar, mengatakan bahwa Abdullah Sungkar dengan tegas pernah menyatakan keberadaan Jamaah Islamiyah (JI), melalui sebuah wawancara antara Abdullah Sungkar dengan majalah Nidaul Islam edisi 17 yang terbit sektar Februari-Maret 1997.

Menurut Abdullah Sungkar, Jamaah Islamiyah bercita-cita membangun Daulah Islamiyah (Pemerintahan Islam), dan JI memiliki perbedaan yang jelas dibandingkan dengan organisasi-organisasi Islam lainnya. Bila parpol dan ormas Islam yang ada di Indonesia memilih jalan kooperatif dengan pemerintah, maka JI bersikap nonkooperatif.





Abdullah Sungkar juga mengatakan, JI bukanlah gerakan yang sama sekali baru, karena embrio JI adalah gerakan DI/TII yang telah memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII) pada tanggal 7 Agustus 1949. NII diproklamasikan selain untuk menentang pemerintahan kafir Belanda juga untuk menentang rezim sekuler Republik Indonesia.

Menurut klaim Abdullah Sungkar, JI merupakan gerakan yang berusaha mengembalikan kesadaran akan kewajiban membangun Daulah Islamiyah melalui jalan jihad, sebagai kelanjutkan gerakan DI/TII. Upaya itu ditempuh dengan membangun tiga kekuatan, yaitu kekuatan aqidah, kekuatan persaudaraan dan kekuatan milisi. JI juga menerapkan strategi yang sama dengan DI/TII dalam mencapai cita-citanya, yaitu Iman, Hijrah dan Jihad.

1423190854377372875
1423190854377372875
Di tahun 1993, menurut pengakuan Nasir Abas, Abdullah Sungkar memisahkan diri dari NII faksi Ajengan Masduki. Maka sejak saat itulah (Januari 1993) Abdullah Sungkar menjadi imam Al-Jamaah Al-Islamiyah. Di tahun 1999, Abdullah Sungkar meninggal dunia di Bogor. Maka, pimpinan JI berada di tangan Abu Bakar Ba’asyir yang selama ini menjadi orang kedua. Salah satu kewenangan amir JI adalah melantik Ketua Mantiqi sebagaimana diatur dalam PUPJI (Pedoman Umum Perjuangan Al-Jamaah Al-Islamiyah). Nasir Abas dilantik oleh Abu Bakar Ba’asyir pada April 2001 sebagai Ketua Mantiqi III menggantikan Mustapha alias Abu Tolut alias Hafid Ibrahim alias Pranata Yuda.
Kaitan Talangsari dengan JI

Lalu, apa hubungan antara kasus Talangsari (Lampung) dengan JI (Jamaah Islamiyah)? Keduanya punya titik persintuhan dengan sosok bernama Abdullah Sungkar. Kasus Talangsari terjadi pada Februari 1989, ketika Abdullah Sungkar masih berada di Malaysia. Ini dapat diartikan, meski secara fisik Abdullah Sungkar berada di Malaysia, namun komunikasi dan pembinaan terus berlanjut hingga ke Talangsari sekalipun.

14231909631260391272
14231909631260391272

Semasa masih berada di Indonesia, semasih menjadi kader NII, Abdullah Sungkar aktif membina gerakan keagamaan yang dinamakan Usroh. Sejumlah pelaku kasus Talangsari merupakan bagian dari gerakan Usroh Abdullah Sungkar ini. Misalnya, Sukardi, yang bergabung ke dalam gerakan Usroh Abdullah Sungkar pada tahun 1984. Selain menjadi aktivis gerakan Usroh Abdullah Sungkar, Sukardi juga anggota tim pencari dana Fa’i pimpinan Nurhidayat bin Abdul Mutholib.

Nurhidayat sendiri merupakan salah satu anggota gerakan Usroh Abdullah Sungkar Jakarta Selatan, yang mengenal gerakan Usroh Abdullah Sungkar pada tahun 1984 dari Ibnu Toyib alias Abu Fatih. Sosok Ibnu Toyib alias Abu Fatih kemudian hari dikenal sebagai salah satu petinggi JI, yang pernah menjabat sebagai Ketua Mantiqi II.

Nama-nama lain yang juga terkait kasus Talangsari yang juga menjadi anggota gerakan Usroh pimpinan Abdullah Sungkar adalah Mushonif, Abadi Abdillah, Margotugino, Suryadi, Alex alias Muhammad Ali, Arifin bin Karyan (mantan aktivis gerakan Usroh Abdullah Sungkar Jakarta Ring Condet).

Mushonif yang divonis 20 tahun penjara dalam kasus Talangsari, sebenarnya tidak terlibat dalam peristiwa itu. Ia adalah alumnus Pondok Pesantren al-Mukmin Ngruki (1983-1986) yang diutus untuk mengajar di Pondok Pesantren Al-Islam di Way Jepara, Kabupaten Lampung Tengah. Kala itu ia bersama Abadi Abdullah ditugaskan pimpinan ponpes Ngruki untuk mengajar di ponpes Al-Islam, Way Jepara, Lampung. Selama di Way Jepara, Mushonif aktif mengikuti pengajian yang diselenggarakan Warsidi. Karena, ia merasa satu pemahaman dengan Warsidi. Ketika ditangkap aparat, dengan jujur dan terus terang Mushonif mengakui dirinya anggota jamaah Warsidi, namun tidak terlibat aksi kekerasan.

Nama lain yang ikut membidani kasus Talangsari adalah Wahidin AR Singaraja alias Zainal, mantan aktivis gerakan Usroh Abdullah Sungkar Ring Condet (sejak 1984) yang terakhir bekerja sebagai Satpam Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara. Ketika Nurhidayat dalam masa pelarian, Wahidin menjadi semacam tempat singgah. Nurhidayat sesekali mengikuti pengajian yang dikelola Wahidin. Ketika kasus Talangsari meledak, Wahidin hilang bagai ditelan bumi. Ia sama sekali tidak pernah mengikuti proses hukum sebagaimana Nurhidayat dan sebagainya, karena buron hingga kini.

Wahidin AR Singaraja alias Zainal kelahiran Dusun Betung, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Palembang, merupakan anggota tertua dari empat sekawan yang disebut-sebut sebagai aktivis dari Jakarta. Wahidin lahir pada tanggal 24 Agustus 1948. Meski sempat merencanakan gerakan makar di Talangsari bersama-sama dengan Nurhidayat, Sudarsono dan Fauzi Isman, dan ikut menjalin kesepakatan dengan anggota tim perunding Warsidi, kasus Talangsari keburu meledak (7-8 Februari 1989), sebelum ia sempat menginjakkan kakinya untuk hijrah dan menetap di dukuh Cihideung.

14231910151093951776
14231910151093951776

Nama lain yang layak dikutip di sini adalah Abdul Haris alias Haris Amir Falah. Ia sempat menjadi bagian gerakan Usroh Abdullah Sungkar sejak 1984, dan pada tahun 1987 pernah menjadi bagian dari kelompok Nurhidayat yang di kemudian hari merancang gerakan makar di Talangsari. Ketika itu Nurhidayat mengawali persiapan perangnya dengan membentuk empat shaf yang dipimpin oleh empat orang.

Pertama, Shaf Ali dipimpin oleh Nurhidayat (mengurusi masalah kemiliteran).

Kedua, Shaf Usman dipimpin oleh Sudarsono (mengurusi masalah pendanaan).

Ketiga, Shaf Abu Bakar dipimpin oleh Haris Amir Falah (mengurusi masalah dakwah).

Keempat, Shaf Umar dipimpin oleh Arifin Agule (mengurusi masalah perhubungan).

Belakangan, Haris mengundurkan diri, sehingga ia tidak terlibat kasus Talangsari. Nama Haris Amir Falah kembali mencuat ketika ia ikut mendirikan MMI (Majelis Mujahidin Indonesia). Bahkan terakhir kali, Haris menjabat sebagai Ketua MMI Wilayah DKI Jakarta. Ketika Abu Bakar Ba’asyir mundur dari MMI dan mendirikan Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT), Haris Amir Falah merupakan salah satu pendirinya. Bersama-sama dengan Abu Bakar Baasyir dan Fauzan Al-Anshari, Haris Amir Falah hengkang dari MMI.

Ibarat derasnya sungai, gerakan Usroh Abdullah Sungkar mengalir hingga ke Lampung, menghasilkan radikalisme ala Warsidi (1989). Sebelumnya, ia mengalir ke Tanjung Priok (kasus Tanjung Priok 1984).

Kalau saja radikalisme Talangsari versi Warsidi tidak segera ditumbangkan saat itu juga, mungkin di tempat itu akan menjelma menjadi sebuah basis pemberontakan yang jauh lebih dahsyat. Pada masa itu (1989) radikalisme berupa pemberontakan bersenjata dilakukan dengan panah beracun, golok, clurit atau bendorit (perpaduan antara bendo alias golok dengan clurit). Satu hingga dua dasawarsa kemudian, radikalisme itu sudah menjadi sesuatu yang sangat mengerikan, antara lain berupa bom bunuh diri sebagaimana pernah terjadi di JW Marriott dan Ritz Carlton pada 17 Juli 2009.

Komnas HAM dan Kontras Menstigma Islam?

Sejak radikalisme Talangsari ala Warsidi dibungkam, praktis sekitar satu dasawarsa kemudian radikalisme –terutama yang ditandai sebagai ekstrim kanan– tidak pernah muncul ke permukaan. Artinya, penumpasan gerakan radikal Talangsari yang dimotori oleh anak asuh Abdullah Sungkar –atau mereka yang pernah menjadi anggota gerakan Usroh Abdullah Sungkar– ternyata cukup efektif mengamankan wilayah Indonesia dari aksi serupa setidaknya untuk masa sekitar satu dasawarsa ke depan.

Menjaga keutuhan NKRI lebih penting dibandingkan dengan segalanya, termasuk adanya kemungkinan kesalahan tehnis di dalam penanganan gerakan radikal dalam bentuk apapun juga. Hal inilah yang seharusnya dipahami oleh para pegiat HAM. Jangan hanya mencari-cari kesalahan tehnis dari upaya konstruktif mengamankan wilayah Indonesia dari ancaman perbuatan radikal, dengan alasan HAM.

Kami para pelaku kasus Talangsari sendiri sudah berusaha sedemikian jujur dan terus terang mengakui, bahwa peristiwa itu memang sebuah gerakan radikal, sebuah peperangan yang direncanakan, sebuah perlawanan terhadap negara kesatuan RI yang sah yang didasarkan pada doktrin keagamaan tertentu yang waktu itu kami yakini kebenarannya. Kini, itu semua sudah kami posisikan sebagai lembaran masa lalu yang tak layak diungkit karena begitu menakutkan dan menyakitkan.

Para pelaku Talangsari sudah sepenuhnya menyadari bahwa radikalisme di Talangsari tak perlu diungkit meski dengan alasan HAM sekalipun. Apalagi pengungkapan kembali kasus itu memanfaatkan orang-orang yang tidak layak dijadikan narasumber. Komnas HAM dan Kontras sebaiknya arif bijaksana menyikap hal ini. Tidak ada seorang pun yang mau masa lalunya diungkap. Apalagi masa lalu yang penuh kegetiran.

Seolah-olah Komnas HAM dan Kontras memang sengaja ingin terus menghidup-hidupkan citra buruk tentang Islam, bahwa Islam selalu dekat dengan radikalisme. Seolah-olah Komnas HAM dan Kontras selalu ingin menjaga ingatan masyarakat tentang radikalisme yang kami lakukan atas nama agama di masa lalu tetap hidup hingga kini. Bila Komnas HAM dan Kontras bersikap demikian, maka jangan heran bila ada sebagian dari umat Islam yang merasa terusik dengan sikap Komnas HAM dan Kontras. Bahkan, jangan heran bila ada sebagian umat Islam yang justru memposisikan Komnas HAM dan Kontras sebagai lembaga yang mengidap Islamophobia, karena dianggap suka menghidup-hidupkan kasus masa lalu kami tentunya dalam rangka memberi stigma negatif terhadap Islam dan umat Islam secara keseluruhan.

Sebagai pelaku, kami menyadari bahwa apa yang kami lakukan saat itu telah melukai umat Islam pada umumnya. Kami hanyalah sebagian kecil saja dari umat Islam Indonesia yang berjumlah ratusan juta orang. Namun karena ulah kami yang segelintir ini, umat Islam pada umumnya menjadi ikut ternoda. Apakah noda (stigma) ini yang sedang dihidup-hdupkan oleh Komnas HAM?

Komnas HAM Membela Pelaku Makar?

Letnan Jenderal TNI (purnawirawan) Saiful Sulun mantan Pangdam Brawijaya dan mantan Wakil Ketua DPR RI yang juga menjabat sebagai Koordinator Forum Komunikasi Punawirawan TNI/Polri pernah mengatakan, kepentingan politis di balik upaya pengusutan kembali kasus Talangsari oleh Komnas HAM lebih kental dibanding keinginan menyelesaikan kasus tersebut. (Rakyat Merdeka, 6 Maret 2008).

1423191077289657892
1423191077289657892

Salah satu pelaku Talangsari, Fadillah, yang juga pernah menjadi bagian dari gerakan Usroh Abdullah Sungkar pernah mengatakan, “…kami merasa direndahkan, jika kasus Talangsari disebut sebagai pelanggaran HAM.”

Pernyataan itu disampaikan Fadillah saat diwawancarai harian Rakyat Merdeka 16 Juli 2007. Ketika itu Fadillah beralasan, “Kami ini pejuang. Kasus Talangsari itu bukan pelanggaran HAM, tapi perang antara aparat pemerintah dengan kami sebagai mujahidin yang ingin mendirikan hukum Islam dengan cara apapun dan risiko apapun. Saat itu, kami berkeyakinan, mati adalah syahid, kalau ditawan adalah ujian. Tidak ada kata-kata pelanggaran. Mana ada aktivis DI yang teriak-teriak minta pengusutan pelanggaran HAM termasuk minta kompensasi, tidak ada karena memang itulah prinsip utamanya kita berjuang.”

Kasus Talangsari adalah serpihan gerakan makar Darul Islam (DI/TII). Kalau kasus Talangsari (1989) yang tergolong makar dapat diungkap kembali atas nama HAM, maka pemberantasan gerakan DI/TII di masa lampau (1960-an) pun dapat diungkap kembali atas nama HAM. Begitu juga dengan kasus makar lainnya, dapat diungkap lagi atas nama HAM. 

Sumber:
Share:

Tentang Kasus Talangsari Lampung 1989



Oleh RIYANTO (Mantan Komandan Pasukan Khusus GPK Warsidi)

KALAU saja saya tidak ditugaskan oleh Warsidi membebaskan anggota jamaah kami yang ditangkap aparat, boleh jadi saya sudah tewas di Talangsari ketika aparat Korem Garuda Hitam mendatangi Dukuh Cihideung, Dusun Talangsari III, Desa Rajabasa Lama, Kecamatan Way Jepara, Lampung Tengah, tempat komunitas Warsidi berada, untuk menjemput jenazah Kapten Soetiman yang tewas dibunuh mbah Marsudi (kakak Warsidi) pada hari sebelumnya.

Warsidi dan Talangsari adalah dua hal yang takkan pernah terlupakan sepanjang hidup saya. Warsidi merupakan salah satu dari sekian banyak orang Jawa yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Lampung. Sejak sebelum kemerdekaan, sekitar tahun 1937, Warsidi sudah mengikuti orangtuanya ke Lampung, tepatnya di kecamatan Batanghari. Barulah sejak Juni 1988 Warsidi bersama isterinya menetap di pedukuhan Cihideung yang merupakan bagian dari Dusun Talangsari III yang baru diresmikan sejak 1 Januari 1988.



Warsidi sebenarnya sosok yang santun, paham keagamaannya juga biasa-biasa saja. Namun, ia banyak bersentuhan dengan berbagai kalangan. Misalnya, sebagaimana pernah diungkap majalah Editor edisi 25 Februari 1989, Warsidi sempat berguru kepada seseorang bernama Anwar, pendiri Jamaah Darul Hadist yang kelak berganti nama menjadi Islam Jamaah dan berganti lagi menjadi Lemkari hingga akhirnya menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia), yang pernah difatwa sesat oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia).

Kelompok ini berpaham ekstrem, sebagaimana bisa dinilai dari sejumlah pidato Anwar sang pendiri Jamaah Darul Hadits untuk kecamatan Batanghari, Lampung Tengah, yang selalu mengkritik pemerintah. Ketika Warsidi pindah ke Kecamatan Way Jepara, khususnya di pedukuhan Cihideung, pemahaman ekstrem itu tetap dibawanya.

Di Cihideung, Warsidi bersentuhan dengan Ir Usman, sarjana tehnik lulusan Universitas Gajah Mada yang pernah menjadi tenaga pengajar di ponpes Al-Islam di Desa Labuhan Ratu (Way Jepara) pimpinan KH Djunaidi yang juga dikenal cukup baik oleh Warsidi. Ponpes Al-Islam berjarak sekitar limabelas kilometer dari pemukiman komunitas Warsidi di Cihideung. Melalui Usman inilah Warsidi mulai mengenal konsep Iman, Hijrah dan Jihad ala Kartosoewirjo (proklamator Negara Islam Indonesia), yang juga dilanjutkan oleh Abdullah Sungkar semasa masih menjadi bagian dari NII maupun sesudahnya.

Karena ada kekurang-harmonisan antara Usman dengan KH Djunaidi, maka Usman pun hengkang ke Cihideung, bergabung menjadi bagian dari komunitas Warsidi. Beberapa hari sebelum peristiwa Talangsari meletus, Usman menghilang beserta isteri dan putranya yang baru lahir. Usman juga membawa serta sekitar sepuluh orang santri yang masih tergolong anak-anak namun sudah diajari memanah.


Selain bersentuhan dengan Anwar dan Usman, Warsidi juga bersentuhan dengan Zainal Arifin bin M. Amin, seorang aktivis NII Lampung. Ketika itu (1974-1978) Zainal Arifin menjabat sebagai sekretaris NII Lampung, sedangkan Ketua (Gubernur) NII Lampung adalah Abdul Kadir Barodja dan Wakilnya adalah Farid Ghozali. Di tahun 1985, Abdul Kadir Barodja diduga terlibat kasus peledakan Candi Borobudur.

Sehari-hari Zainal berjualan jahe gajah sambil berdakwah. Ketika ia sedang berdakwah di Umbul Mas (Lampung Tengah), ia bertemu dengan Warsidi bahkan sempat bermalam di kediaman Warsidi (1987). Di tempat Warsidi, Zainal bertemu dengan salah seorang aktivis NII dari Jakarta bernama Purson, yang juga merupakan teman dekat Abdul Kadir Barodja.

Keberadaan Warsidi dan dukuh Cihideung kian dikenal di kalangan pergerakan Islam, terutama komunitas DI/TII (NII) termasuk komunitas DI/TII (NII) yang berada di Jakarta dan Jawa pada umumnya. Ini semua berkat kemampuan Usman menjalin komunikasi dengan dunia di luar Cihideung, sesuatu yang tidak dimiliki Warsidi tentunya. Usman mempromosikan keberadaan Cihideung sebagai lokasi yang layak untuk dijadikan tempat berhijrah dalam rangka mewujudkan jihad. Salah satu daya tarik Cihideung adalah karena letaknya yang relatif dekat dari Jakarta. Cihideung menjadi tempat yang cocok untuk menerapkan konsep Iman, Hijrah, dan Jihad ala Kartosoewirjo dan para pengikutnya saat itu.


Promosi gethok tular alias dari mulut ke mulut itu pun akhirnya hinggap ke telinga empat aktivis dari Jakarta, yaitu Nurhidayat, Sudarsono, Fauzi Isman, dan Wahidin. Pada bulan Oktober 1988, Nurhidayat mendapat informasi tentang keberadaan sebuah kelompok pengajian yang memiliki tanah seluas 1,5 hektar di dukuh Cihideung, Lampung, yang dipimpin oleh Warsidi. Tak perlu waktu lama, Nurhidayat pun mengutus Fauzi Isman, Wahidin dan Sofyan untuk berangkat ke Lampung guna menemui Warsidi dalam rangka konfirmasi, dan bila memungkinkan menawarkan kerjasama membangun perkampungan muslim.

Tak berapa lama, kunjungan itu mendapat balasan dari kelompok Cihideung. Bertempat di rumah kontrakan Sudarsono, di Jakarta, masih di bulan Oktober 1988, digelar pertemuan antara kelompok Jakarta dengan utusan dari Lampung (utusan Warsidi). Utusan dari Lampung diwakili oleh Ir. Usman, Umar, Heri dan Abdullah (Dullah). Intinya, tawaran kelompok Jakarta dapat diterima oleh kelompok Lampung (Warsidi), yaitu membentuk perkampungan muslim (Islamic Village) di Cihideung.

Sekitar dua bulan kemudian, diadakan pertemuan Cibinong pada tanggal 12 Desember 1988 untuk memantapkan rencana membentuk perkampungan muslim di Cihideng. Melalui pertemuan Cibinong ini disepakati pembentukan Dewan Amir (pimpinan bagi para jamaah mujahiddin), dan Nurhidayat dipilih sebagai Amir Musafir. Selain itu, ditetapkan sebuah nama yaitu Front Komando Mujahiddin Fisabilillah sebagai nama gerakan yang di dalamnya memiliki pasukan khusus. Kepada anggota pasukan khusus diprogramkan mendapat pembinaan berupa bela diri serta keterampilan memanah. Mereka memang disiapkan untuk menghadapi musuh di medan perang.

Saat itu juga, Nurhidayat sebagai Amir Musyafir dilantik oleh Dewan Amir. Tugas Amir Musyafir adalah menjalankan program hijrah bagi para jama’ah di Jakarta dan Jawa yang akan hijrah ke Cihideung. Selain Nurhidayat yang mempunyai hak prerogatif merekomendasikan calon muhajirin ke Cihideng adalah Sudarsono dan Fauzi Isman.

Sebagai tindak lanjut pertemuan Cibinong, Nurhidayat bersama Fauzi Isman berangkat ke Cihideung untuk melakukan pembicaraan secara langsung dengan Warsidi (pimpinan jama’ah Cihideung, Talangsari). Gayung pun bersambut. Ketika itu Warsidi menerima hasil keputusan pertemuan Cibinong 12 Desember 1988 yang menetapkan Cihideung sebagai basis perjuangan (jihad). Gagasan membangun basis perjuangan antara lain direalisasikan dengan membekali pasukan dengan latihan memanah dan bela diri silat yang dipimpin oleh Dullah. Pembekalan itu ditujukan untuk memerangi kaum kafir, yaitu semua orang yang bukan jama’ah Warsidi.

Salah satu kesepakatan yang telah dijalin adalah Jamaah Warsidi di Cihideung bersedia menjadi “kaum Anshor” bagi para Muhajirin dari Jakarta dan Jawa, sedangkan pedukuhan Cihideung diposisikan sebagai “Madinah” yang harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan.

Selain itu, juga disepakati pemberlakuan sejumlah doktrin kepada calon muhajirin. Pertama, mentakfirkan selain anggota jamaahnya. Siapa saja yang tidak mengikuti hukum Allah maka ia atau mereka tergolong kafir. Termasuk, para ulama yang menghalangi mereka dalam menegakkan hukum Allah, terolong kafir dan halal darahnya. Kedua, menolak Pancasila sebagai azas. Alasannya, pemerintah dengan Pancasilanya telah menjauhkan umat dari perilaku Islami. Ketiga, puasa selang-seling selama 40 hari, membaca wirid dan sholat malam berjama’ah supaya jiwanya siap menjadi syahid. Bagi yang mampu menyelesaikan ketiga doktrin tadi, maka ia layak memperoleh rekomendari dari Nurhidayat untuk hijrah ke Cihideung bergabung dengan Warsidi.

Warsidi sendiri, setelah bersentuhan dengan aktivis dari Jakarta, menjadi kian vokal, misalnya dalam setiap khotbahnya Warsidi menebarkan permusuhan: pemerintah divonis kafir, dan Pancasila adalah berhala. Semangat mendirikan Negara Islam sudah semakin tegas terlihat. Penolakan Warsidi terhadap keberadaan pemerintahan Soeharto (Orde Baru) kala itu, diwujudkan dengan menolak membayar pajak, menolak mengantongi Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Para muhajirin dari Jawa dan daerah lainnya, yang sepaham dengan Warsidi, merasa tidak perlu mengikuti prosedur administrasi kependudukan yang berlaku karena prosedur itu dibuat oleh pemerintahan kafir. Oleh karenanya, mereka tidak melaporkan diri ke aparat setempat atas kedatangannya ke dukuh Cihideung. Jumlah para muhajirin ini setiap hari kian bertambah, sehingga menimbulkan tanda tanya di dalam diri Sukidi.

Kedatangan para muhajirin yang tiba-tiba dalam jumlah relatif besar (sekitar 100 jiwa), ternyata tidak diimbangi dengan kesiapan logistik: sandang, pangan, papan. Sehingga, terjadilah pencurian singkong milik warga sekitar, berumpun bambu, dan berbutir kelapa. Para muhajirin ini merasa berhak atas itu semua, karena semua itu pada dasarnya milik Allah, dan Allah mewariskan bumi dan segala isinya bagi orang-orang saleh, dan yang dimaksud dengan orang-orang saleh adalah kelompok mereka sendiri.

1423204430590938319
1423204430590938319

Tak cuma itu, sejumlah anak buah Warsidi pernah mendatangi Sukidi dengan membawa-bawa golok dan pedang, seolah-olah menantang perang. Maka, masyarakat pun menjadi tak tenang, resah dan ketakutan. Akibatnya, sebagian dari warga pun mengungsi meski harus meninggalkan harta-benda miliknya. Tak ketinggalan Sukidi dan keluarganya yang memutuskan pindah ke dusun lain, untuk menjauh dari teror yang dilancarkan jamaah Warsidi.

Meski begitu, Sukidi tidak tinggal diam. Sebagai Kepala Dusun, semua itu ia laporkan kepada atasannya, Amir Puspa Mega, Kepala Desa Rajabasa Lama, pada tanggal 11 Januari 1989. Berdasarkan laporan Sukidi itu, Amir Puspa Mega mengirimkan sepucuk surat kepada Zulkifli Maliki, Camat Way Jepara, pada tangal 12 Januari 1989.

Hari itu juga, Camat Way Jepara Zulkifli Maliki menyurati Warsidi dan Jayus, juga Amir Puspa Mega dan Sukidi. Surat Camat diterima Warsidi sore hari, yang langsung dibalasnya beberapa menit setelah dibaca. Isinya:

Dengan hormat,

Bahwa surat yang kami terima, sudah kami ketahui isinya.

Perlu diketahui kami dalam kesibukan, dalam mengisi pengajian di berbagai tempat.

Oleh sebab itu kami tidak bisa datang ke Kantor Bapak.

Kami sebagai orang Islam yang sangat menjunjung tinggi Sunnatulloh dan

Sunnaturrosul dalam sebuah Hadist dikatakan:

Sebaik-baiknya Umaro ialah yang mendatangi Ulama dan seburuk-buruknya Ulama

yang mendatangi Umaro.

Oleh karenanya kami mengharap kedatangan Bapak di tempat kami untuk mengetahui

keadaan yang sebenarnya.

Demikian harap maklum…

Semoga Allah memberi hidayahNya.


JADI, Warsidi telah memposisikan dirinya sebagai ulama yang seharusnya didatangi oleh umaro.

Untuk memenuhi undangan Warsidi, esok harinya 13 Januari 1989 menjelang Ashar sekitar pukul 15:00 waktu setempat, Camat Way Jepara Zulkifli Maliki bersama Kepala Desa Rajabasa Lama, Kepala Desa Labuhan Ratu, Kepala Dusun Talangsari III, Kepala Dusun Kelahang dan beberapa staf tiba di kediaman Warsidi.

Pertemuan yang berlangsung di rumah panggung selama satu jam itu, terasa menegangkan dan tidak bersahabat. Ketika itu, ada sekitar 30 orang di dalamnya. Zulkifli Maliki sempat mendengar seseorang berbisik: “Bunuh saja Camat itu”. Suara itu datang dari arah belakang.

Mengakhiri pertemuan itu, menjelang pamit, Zulkifli mengundang Warsidi untuk menemuinya di kantor Camat. Ketika itu Warsidi berjanji akan memenuhi undangan tersebut, Sabtu, 14 Januari 1989. Namun hingga akhir hayatnya Warsidi tak kunjung datang.

Dua minggu kemudian, 27 Januari 1989, Camat Way Jepara Zulkifli Maliki melaporkan hal ini kepada Kapten Soetiman Komandan Koramil Way Jepara. Esok harinya, sepucuk surat dilayangkan Kapten Soetiman kepada Warsidi, untuk segera memenuhi panggilan Camat, paling lambat 1 Februari 1989.

Tanggal 1 Februari 1989, Warsidi tak juga datang. Malah menurut pantauan Lurah Rajabasa Lama Amir Puspa Mega, Warsidi dan anak buahnya melakukan kegiatan tak lazim, seperti belajar memanah, latihan beladiri, dan merakit bahan peledak dari botol bekas minuman anggur. Nampaknya mereka sedang menyiapkan genderang perang untuk ditabuh.

Esok harinya, 2 Februari 1989, Kepala Dusun Talang Sari III Sukidi menyelinap mendekat lokasi. Dari balik semak, ia melihat kejanggalan: ada sejumlah anak muda dibalut pangsi hitam dengan ikat kepala, bersenjata pedang, celurit, golok, dan panah. Nampaknya, genderang perang sudah semakin siap ditabuh. Sukidi pun melaporkan temuannya kepada Komandan Koramil Kapten Soetiman.

14232045142100165169
14232045142100165169

Pada 5 Februari 1989, Soetiman memerintahkan Serma Dahlan dan Kopda Rahman mendekati lokasi. Malam hari sekitar pukul 23.30, keduanya mencurigai dan menangkap 6 pemuda tanggung. Dari mereka, disita sekarung anak panah, 5 bilah golok, 2 bilah pedang, dan 2 paket bom molotov. Mereka terdiri dari: Usman, Muhdi, Mursyidin, Mundiman, Abdurrahman, dan Hardiwan. Seorang lagi benama Sadar alias Joko –kakak kandung Jayus alias Dayat bin Karmo yang kala itu berusia sekitar 40 tahun– berhasil melarikan diri sebelum sempat dibawa. Sedangkan Usman berhasil melarikan diri di tengah jalan dalam perjalanan menuju Koramil. Ditemukannya sejumlah perlengkapan perang seperti anak panah hingga bom molotov, menunjukkan bahwa rencana perang memang sudah sedemikian serius.

Dini hari tanggal 6 Februari, Warsidi mendapat kabar tertangkapnya 5 orang jamaahnya. Tak buang tempo, pada dini hari itu juga, sekitar jam 02:00 wib, Warsidi memerintahkan saya dan kawan-kawan untuk membebaskan 5 orang jamaahnya yang katanya ditahan di Koramil Way Jepara, padahal sebenarnya masih berada di rumah Sukidi (Kepala Dukuh Talangsari III).

Saya ditunjuk sebagai Komandan Pasukan khusus yang bertugas membebaskan 5 teman kami yang ditahan aparat. Jumlah kami 12 orang. Perlatan perang yang kami siapkan berupa golok, panah, dan bahan peledak. Kami tiba di Koramil Way Jepara sekitar pukul 6:00 pagi. Namun dikabarkan, bahwa tahanan 5 jamaah Warsidi sudah dikirim ke Kodim Metro. Upaya pembebasan ini gagal. Kami pun menuju Sidorejo untuk mengatur strategi penyerangan di Bandar Lampung. Kami tiba di Sidorejo jam 08:00 pagi. Di Sidorejo, kami kumpul-kumpul, makan dan shalat dzuhur di rumah pak Zamzuri.

Siang itu Saya (Riyanto) mengutus Fadilah ke Cihideung untuk minta petunjuk dari Warsidi mengenai langkah selanjutnya. Fadilah tiba di Cihideung sekitar jam 14:00 wib, pasca kejadian tewasnya Kapten Soetiman.

Tanggal 6 Februari 1989 siang, sebelum Fadilah tiba, Kapten Inf. Soetiman bersama rombongannya mendatangi Talangsari, dengan maksud melakukan klarifikasi atas ketidak-hadiran Warsidi memenuhi panggilan Camat serta Danramil. Klarifikasi ini disangka sebagai sebuah serangan.

Karena, kedatangan rombongan Kapten Soetiman yang bertepatan dengan saat shalat Dzuhur itu, diawali dengan adanya suara tembakan. Sebagian jama’ah Warsidi yang ketika itu baru saja menunaikan shalat Dzuhur, ketika mendengar suara letusan senjata itu langsung berhamburan menjemput rombongan Kapten Soetiman, dibarengi dengan teriakan Allahu Akbar, takbir yang susul-menyusul, juga lesatan anak panah dari balik semak yang mengarah ke tubuh Soetiman.

Puluhan anak buah Warsidi lainnya berhamburan keluar dari rumah-rumah bambu sambil mengacungkan berbagai senjata, menyerang rombongan Kapten Soetiman. Mayor Sinaga dengan sigap memerintahkan mundur. Seketika itu, kendaraan Sinaga berbelok arah dengan menerjang pepohonan, meninggalkan lokasi. Berbeda dengan Sinaga yang selamat, Kapten Soetiman menjadi bulan-bulanan, ia dikejar-kejar, tubuhnya dikoyak-koyak, dan lehernya ditebas sampai tewas oleh mbah Marsudi.

Kalau saja Mayor Sinaga tidak sigap memerintahkan mundur, mungkin akan banyak korban yang jatuh, tidak hanya Kapten Soetiman. Ketika itu, selain Mayor Sinaga dan Kapten Soetiman, rombongan terdiri dari Dul Bakar (Kapolsek Way Jepara), Amir Puspa Mega (Kepala Desa Rajabasa Lama), Sukidi (Kepala Dusun Talangsari III), Dahlan (Kepala Tata Usaha Koramil), Drs. Zulkifli Maliki (Camat Way Jepara), Polisi Pamong Praja, dan seorang personil KUA (Kantor Urusan Agama).

Jenazah Kapten Soetiman kemudian dikuburkan ba’da Ashar di lokasi tempat kejadian. Persisnya di jalan menuju ke Hujan Mas.

Satu pucuk pistol jenis FN dan dua unit sepeda motor yang tertinggal di lokasi karena ditinggal kabur oleh rombongan Mayor Sinaga, akhirnya diambil alih.

Pasca pertempuran, kira-kira sore hingga ba’da Maghrib, terjadi eksodus besar-besaran. Jumlahnya mencapai puluhan orang. Mereka meninggalkan lokasi untuk menuju ke berbagai tempat seperti Jakarta dan berbagai daerah di Sumatera Selatan. Sehingga jama’ah Warsidi yang tertinggal saat itu hanya 58 jiwa (termasuk wanita dan anak-anak).

Pasca terbunuhnya Kapten Soetiman, 6 Februari 1989, sore hari sekitar jam 17:00 wib Fadillah kembali ke Sidorejo, dengan membawa perintah dari Warsidi untuk membuat kekacauan di Tanjung Karang, dalam rangka mengalihkan perhatian aparat pasca terbunuhnya Kapten Soetiman.

Perintah Warsidi tersebut disampaikan Fadillah kepada saya selaku Komandan Pasukan Khusus. Saya langsung membuka forum musyawarah di antara sesama anggota pasukan khusus (12 orang), pak Zamzuri (tuan rumah) dan pak Sudiono (almarhum), juga beberapa anggota jamaah pengajian yang dibina pak Zamzuri.

Ba’da Maghrib perintah tersebut mulai dilaksanakan. Dari Sidorejo tiga orang berangkat menuju Simpang Sri Bawono untuk mencarter colt angkutan umum. Setelah memperoleh colt carteran (namun pada akhirnya tidak dibayar sama sekali), ketiganya kembali ke Sidorejo untuk menjemput anggota pasukan khusus lainnya yang masih siaga di rumah Zamzuri. Kesebelas anggota pasukan khusus ini berangkat (minus Sony yang tetap tinggal di Sidorejo) ke Tanjung Karang untuk melaksanakan perintah Warsidi.

Di tengah jalan, Pratu Budi Waluyo, personel TNI dari Batalyon 143 Garuda Hitam mendesak ikut colt Wasis yang sudah dicarter ini, untuk menuju Tanjung Karang.

Selama perjalanan menuju Tanjung Karang, terjadi dialog antara kami bersebelas dengan Pratu Budi Waluyo. Dari dialog itulah diketahui, bahwa Pratu Budi Waluyo besok (7 Februari 1989) akan ikut melakukan penyerangan ke Cihideung. Mengetahui hal ini, saya selaku Komandan pasukan khusus berinisiatif menghabisi Pratu Budi Waluyo dengan mendapat bantuan dari anggota pasukan lainnya. Pratu Budi Waluyo dihujani tusukan hingga tewas.

Sopir (bernama Sabrawi) dan kenek angkutan umum yang melihat kejadian ini, sudah masuk dalam rencana untuk kami bunuh. Namun berhasil melarikan diri dalam keadaan luka parah. Sopir dan kenek yang berhasil lolos dari maut inilah yang kemudian melaporkan kejadian berdarah dan perampasan colt kepada kawan-kawan sesama sopir, juga kepada Polisi.

Karena sopir dan kenek melarikan diri, kemudi diambil alih oleh Sugeng Yulianto, dan melanjutkan perjalanan ke Tanjung Karang. Di Tanjung Karang, sebelum melakukan aksi, diputuskan untuk mengisi bahan bakar dulu di pom bensin. Sialnya, lampu mobil mati, sehingga tidak layak untuk tetap digunakan dalam melakukan aksi ke Polres Tanjung Karang dan Korem Garuda Hitam. Karena dikhawatirkan, dalam keadaan lampu mobil yang tidak hidup, di tengah jalan keburu kena tilang atau ditangkap polantas. Akhirnya rencana serangan ke Polres Tanjung Karang dan Korem Garuda Hitam gagal dilaksanakan. Sasaran dipindahkan ke kantor Lampung Post. Di kantor Lampung Post, saya melemparkan bom molotov, namun tidak berhasil meledak.

Setelah gagal meledakkan kantor Lampung Post, kami melanjutkan perjalanan ke Metro Lampung. Di tengah jalan ada razia polantas. Kendaraan distop oleh polantas, namun Sugeng Yulianto menolak, malahan polantas tadi ditabrak hingga pingsan, setelah sebelumnya berusaha meloncat untuk menghindari serudukan colt yang dikemudikan Sugeng.

Setelah menyeruduk polantas, diputuskan untuk menyembunyikan mobil ke hutan Tigeneneng (Tegineeng). Namun belum sampai disembunyikan, mobil telah lebih dulu terperosok ke dalam parit sehingga harus ditinggalkan. Kami bersebelas pun masuk ke dalam hutan Tigeneneng (Tegineeng), bersembunyi hingga jam 07:00 pagi hari berikutnya (tanggal 7 Februari 1989).

Kami bersebelas belum tahu bahwa saat itu sejak pagi hari tadi aparat sudah mengepung Cihideung, dan sudah berlangsung peperangan antara komunitas Warsidi dengan aparat. Saya selaku Komandan pasukan mengutus 3 orang (Beni, Muchlis dan Muhadi) ke Cihideung untuk meminta petunjuk dari Warsidi. Ternyata Muhadi kembali ke hutan hanya seorang diri (tanpa Beni dan Muchlis), sekitar jam 12:00 siang. Muhadi memperingatkan agar pasukan segera meninggalkan hutan karena sudah dikepung aparat.

Muhadi pun bergabung dengan Beni dan Muchlis berinisiatif melakukan aksi penyerangan ke Kodim Metro tanpa sebelumnya mendapat perintah dari saya selaku Komandan pasukan.

Setelah mendapat peringatan dari Muhadi, saya selaku Komandan memutuskan untuk ke Cihideung, dengan menempuh jalur berbeda. Anggota pasukan yang tersisa 8 orang saya bagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama terdiri dari saya (Riyanto), Zainuri dan Heriyanto. Kelompok kedua, terdiri dari Fadhilah dan Tardi Nurdiansyah. Kelompok ketiga terdiri dari Sugeng Yulianto, Abadi Abdullah dan Sadikin.

Kelompok pertama tiba di Cihideung sekitar jam 16:00 wib, sore hari, ketika perang sudah usai. Dua kelompok lainnya ada yang tiba pukul 19:00 dan 20:00 malam. Ketika itu Cihideung sudah rata dengan tanah.



Sebelumnya, sekitar jam 05:30 wib tanggal 7 Februari 1989, tiga pleton tentara, 50 orang satuan Brimob, mengepung Cihideung dari empat penjuru. Petugas memperingatkan Warsidi berulang-ulang melalui pengeras suara untuk menyerahkan jenazah almarhum Kapten Soetiman.



(Saya proaktif merekonstruksi kejadian tersebut di dalam memori saya, dengan jalan bertukar informasi dengan sesama pelaku saat kami berada di tahanan. Di tahanan kami saling bertukar dan melengkapi informasi…)

Saat itu, Tidak ada kata kompromi. Yang dikumandangkan adalah seruan berjihad. “Kami berhamburan keluar sambil membawa panah dan golok untuk menyerang petugas yang bersenjata lengkap.”

Pada peristiwa ini, Kopda Yatin tersungkur dengan punggung tertancap panah beracun. Jama’ah kami yang ketika itu berjumlah 58 jiwa (termasuk wanita dan anak-anak), sebagian besar meninggal. Laki-laki dewasa meninggal karena pertempuran, sedangkan wanita dan anak-anak meninggal karena ikut terbakar bersama pondok tempat mereka selama ini bermukim. Pondok dibakar oleh Alex.

Sementara itu, pada hari dan tanggal yang sama, 7 Februari 1989, di Sidorejo yang terpisah jarak sepanjang 30 kilometer dari Cihideung yang saat itu sedang bergejolak peperangan, sekitar pukul 08:00 wib seorang wanita anggota Banpol (Bantuan Polisi) bernama Atim mencurigai kediaman Zamzuri sebagai tempat persembunyian pasukan khusus Jama’ah Warsidi yang malam tadi melakukan aksi teror di Bandar Lampung, merampas colt angkutan umum dan membunuh Pratu Budi Waluyo.

Atim bertemu dengan istri Zamzuri, dan dipersilakan masuk. Tak berapa lama, Atim keluar lagi dari rumah itu, sambil dikejar oleh seseorang dari dalam rumah yang di tangannya mencencang sebilah golok sambil meneriakinya “maling…” Atim dikejar hingga sejauh 200 meter. Atim pun masuk ke rumah salah satu penduduk setempat, Mukaji, untuk menyelamatkan diri.

Si pengejar tidak terus mengejar hingga ke dalam rumah Mukaji, tetapi berbalik arah ke rumah Zamzuri. Di tengah jalan, di depan Pos Polisi ia dicegat Serma Soedargo (Kepala Pos Polisi) dan memerintahkannya untuk berhenti. Permintaan itu ditolak, dan berlanjut dengan terjadinya perkelahian.

Serma Soedargo tewas dibacok, setelah sebelumnya sempat menembak Giono, anggota jamaah Warsidi di Sidorejo. Korban lain adalah Arifin Santoso (Lurah Sidorejo) ditebas batang lehernya oleh Zamzuri hingga tewas di tempat.

Masih ada satu lagi korban dari aparat kepolisian bernama Sembiring. Ia ketika itu sudah roboh di tanah dan dipegangi oleh pak Roni menjadi sasaran tembak dari jarak dekat oleh salah satu jama’ah Warsidi bernama Fahruddin. Namun karena kurang terbiasa menggunakan senjata api, tembakan itu meleset dan justru mengenai kaki pak Roni. Sembiring ketika itu pura-pura mati, namun begitu ada keempatan lari, ia pun melarikan diri secepat-cepatnya.

Panah Beracun, Bom Molotov dan Latihan Beladiri

Salah satu pelaku kasus Lampung yang cukup berperanan adalah Sukardi, mantan anggota Usroh Abdullah Sungkar yang kemudian “hijrah” ke Cihideung, benar-benar dalam rangka mempersiapkan sebuah peperangan melawan pemerintahan RI yang disebut sebagai pemerintahan kafir.

14232046031672785601
14232046031672785601

Menurut pengakuan Sukardi, setelah ia bergabung menjadi bagian dari jama’ah Warsidi, aktivitas yang dilakukannya adalah mengintensifkan ibadah rutin dengan cara berjama’ah di Mushollah Mujahiddin. Tak hanya ibadah, Sukardi dan jama’ah Warsidi juga menggelar sejumlah diskusi membahas perjuangan umat Islam. Juga, mengkritisi politik rezim Soeharto yang memberlakukan Azas Tunggal Pancasila sebagai satu-satunya azas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pemberlakuan azas tunggal dinilai oleh para jama’ah Warsidi sebagai perampasan hak Allah dan karena itu wajib hukumnya untuk ditentang dan diperangi. Selain beribadah dan ‘berpolitik’, kegiatan lainnya adalah bercocok tanam di ladang yang dihibahkan Jayus alias Dayat bin Karmo kepada Warsidi.

Sejumlah kegiatan yang menjadi bagian dari persiapan perang antara lain diwujudkan dengan membuat parit dengan kedalaman satu setengah meter (setinggi dada orang dewasa) di sekitar pemukiman pondok pengajian Warsidi, yang dimaksudkan sebagai bungker pertahanan. Juga, membuat bom molotov dari berbagai botol kosong yang diisi serbuk gergaji dan bensin kemudian dilengkapi sumbu penyulut. Menurut pengakuan Sukardi, bom molotov tersebut merupakan rancangan Ir. Usman, selama ia masih menjadi bagian dari komunitas Warsidi. Sebagian besar bom molotov dibuat di kediaman Imam Bakri, yang merupakan penduduk asli Cihideung yang secara sosial ekonomis lebih tinggi dibanding penduduk Cihideung lainnya. Imam Bakri selain memiliki rumah yang besar dan mesin penggiling padi, ia juga mempunyai ladang yang luas.

Selain membuat bom molotov, persiapan perang juga diwujudkan dengan membuat sejumlah panah beracun. Panah beracun (dari getah poh) ini merupakan rancangan Sudarsono, salah satu dari anggota empat sekawan yang dikenal sebagai “aktivis dari Jakarta”. Panah ini terbuat dari jeruji sepeda, becak dan sepeda motor. Bentuknya unik, panjangnya sekitar 30 sentimeter dan berujung lancip. Pada ujungnya yang lancip diberi pengait dari bahan semacam timah, ekornya terbuat dari tali rafia tujuh lembar yang dijurai dengan sisir. Anak panah ini dilengkapi dengan alat pelontar sejenis ketapel, sehingga dapat melesat sejauh 200 meter.

Selain panah beracun yang terbuat dari bahan jeruji becak atau sepeda, ada juga jenis panah beracun lain yang terbuat dari belahan atau potongan-potongan kecil bambu yang dilengkapi dengan jenis racun yang berbeda. Panah beracun dari bambu ini lebarnya sekitar dua sentimeter dan panjangnya sekitar 25 sentimeter. Racun yang digunakan berasal dari kodok buduk, tikus dan ular berbisa yang dicincang, kemudian dilarutkan ke dalam air kelapa hijau. Untuk menghasilkan panah beracun yang mematikan, anak panah yang telah siap direndam ke dalam larutan beracun tadi selama beberapa hari. Untuk mempersiapkan panah beracun ini, Warsidi menugaskan Sukardi, Alex, Sugeng Saputra, Margo Tugino, Arifin bin Karyan dan Muslim sebagai pembuatnya.

Para jama’ah mempersiapkan diri dengan melakukan latihan bela diri dan belajar memanah, di halaman terbuka tak jauh dari depan rumah Warsidi. Latihan bela diri, belajar memanah, pembuatan panah beracun dan bom molotov ini dipimpin oleh Alex alias Muhammad Ali atas perintah Warsidi untuk mempersiapkan perang mempertahankan ideologi Islam. Aktivitas ini dengan mudah dapat dilihat oleh warga setempat yang sedang menuju ke ladang mereka masing-masing.

Persiapan perang yang diwujudkan dengan latihan beladiri, latihan menggunakan anak panah beracun dan bom molotov, bukan sekedar latihan tanpa keinginan mempraktikkannya. Keinginan itu ternyata begitu tinggi. Maka, ketika rombongan Kapten Soetiman datang (6 Februari 1989) untuk klarifikasi atas sikap Warsidi yang tidak memenuhi undangan Camat, hal itu ditafsirkan dan disikapi sebagai kesempatan berjihad di medan perang. Apalagi, sebelumnya aparat sudah melakukan penangkapan terhadap lima dari enam petugas ronda yang ditugaskan Warsidi mengintensifkan pengamanan di sekitar pondok.

Begitu juga ketika pasukan Korem Garuda Hitam keesokan harinya (7 Februari 1989) mendatangi ‘markas’ Warsidi untuk mengambil jenazah Kapten Soetiman, juga dimaknai sebagai kesempatan berjihad di medan perang.

Selama perang berlangsung, kaum ibu dan anak-anak bersembunyi di dalam sebuah rumah. Rumah tersebut terbakar karena terkena lemparan bom molotov yang nyasar. Bom molotov salah sasaran itu terjadi ketika pasukan Warsidi berhasil didesak mundur oleh pasukan Korem Garuda Hitam. Sambil mundur, sambil melepaskan bom molotov, sehingga sasaran menjadi keliru. Dalam peperangan ini, pasukan Korem Garuda Hitam mendapat bantuan dari warga sekitar.

Setelah berbilang jam kemudian, sekitar pukul 14:00 wib, pasukan Korem Garuda Hitam dan Brimob Polri berhasil sepenuhnya menguasai keadaan. Dari peperangan ini, sang Imam Warsidi gugur bersama sejumlah jamaahnya. Sebagian lainnya, ditawan sebagai tahanan perang, dan sebagian lainnya meloloskan diri seperti Jayus alias Dayat bin Karmo.

Setelah Perang Usai

Satu hal yang sudah bisa dipastikan dari sebuah peperangan adalah jatuhnya korban. Tidak hanya korban luka-luka, tetapi juga korban meninggal. Kapten Soetiman telah lebih dulu gugur di dalam tugasnya sebagai Danramil yang berusaha mengamankan wilayahnya dari potensi disintegrasi.

Dari pihak Jama’ah Warsidi sendiri, sejumlah orang gugur, termasuk sang Imam dan pasukan terlatihnya yang kala itu habis-habisan melawan aparat Korem Garuda Hitam dan Brimob Polri. Sukardi, yang ketika perang berkecamuk ditugaskan Warsidi ke Jakarta, kehilangan anak-istri dan iparnya.

Namun demikian, jatuhnya korban tak juga menyadarkan kami. Sukardi, misalnya, setelah ditugaskan ke Jakarta, kemudian kembali ke Talangsari dan lolos dari maut di sana, ia segera kembali ke Jakarta menghadap Nurhidayat sang Imam Musyafir. Ketika itu, Nurhidayat membawa Sukardi ke rumah Abdullah Mafaid Faedah Harahap, menggelar pertemuan di sana untuk membahas perang di Cihideung, Talangsari. Selain saya (Riyanto), Sukardi dan Nurhidayat, hadir juga Fauzi Isman, Wahidin alias Zainal, Ridwan Casari, dan Maulana Abdul Latif.

Pertemuan yang dipimpin Nurhidayat itu akhirnya memutuskan melancarkan perang lanjutan di Jakarta. Sebelum aksi perang balasan berlangsung, lebih dulu dirancang sebuah pembentukan opini melalui sejumlah selebaran yang menceritakan kasus Talangsari, juga dibuat rekaman kaset yang berisi seruan jihad dari Amir Musyafir Nurhidayat.

Perang lanjutan di Jakarta rencananya akan berbentuk menghancurkan kota Jakarta dengan membakar pom-pom bensin, membakar Pasar Pagi dan Glodok termasuk Tanjung Priok. Sejumlah aksi juga direncanakan akan dilakukan di daerah Subang. Sukardi ditugaskan memimpin pasukan yang akan bergerak di daerah Subang, Jawa Barat dengan sasaran membunuh Bupati Subang dan membunuh setiap anggota TNI dengan panah beracun. Perang lanjutan rencananya akan digelar pada tanggal 2 Maret 1989. Sementara itu, saya (Riyanto) ditugaskan membuat anak panah dari jeruji-jeruji motor bersama Ichwan Sidik dan Sukardi di dibengkel Yus Iskandar Komplek Seroja Bekasi, Jawa Barat. Beberapa hari sebelum perang balasan berlangsung, pada 27 Februari 1989, Nurhidayat tertangkap. Dalam hitungan jam, saya (Riyanto) dan Sukardi yang sedang berada di markas Pondok Gede juga tertangkap.

Detik-detik penangkapan saya (Riyanto) dan Sukardi di markas Pondok Gede kala itu, diabadikan Sukardi melalui bukunya berjudul Pertempuran Talangsari: Perang Ideologi di Tanah Lampung 1989, sebagai berikut:

1423204687765716972
1423204687765716972
Tanggal 23 Pebruari 1989 saya kembali dari Semarang. Sesuai perintah, saya tetap berada di markas bersama Riyanto untuk menyelesaikan pembuatan panah beracun yang dibantu saudara Dede Syaifudin dan Ichwan Sidik sebagai alat untuk melakukan gerakan balasan, yang waktunya hanya tinggal satu pekan lagi
Tanggal 25 Pebruari 1989, Marfa’it Harahap bersama istrinya datang ke markas Pondok Gede sekitar jam 8.00 pagi padahal para jama’ah tidak memberitahukan letak markas tersebut.

Pagi hari tanggal 26 Pebruari 1989 saudara Sudarsono sebagai penyandang dana Front Komando Mujahiddin yang bermalam di markas, pamit kepada saya untuk pergi ke daerah Bandung, Jawa Barat dalam rangka menunaikan tugas perjuangan dan akan bermalam di Bandung.

Tanggal 27 Pebruari 1989 saya bersama Nurhidayat nonton televisi di rumah tetangga sebelah. Kebetulan pada malam itu ada acara pertandingan tinju Elyas Pical. Riyanto sudah tidur duluan. Selesai acara pertandingan tinju, Nurhidayat pamit pulang ke rumahnya dan saya masuk ke dalam markas. Belum jauh Nurhidayat meninggalkan markas Front Komando Mujahiddin Fisabilillah, kira-kira baru seratus meter, terdengar teriakan “maling-maling!” Di dalam hati saya berkata, Nurhidayat sudah ditangkap aparat. Tapi saya sama sekali tidak ada keinginan untuk melarikan diri dari dalam markas. Teriakan itu tidak membuat saya takut berlebihan walaupun di dalam hati saya khawatir akan terjadi sesuatu pada diri saya. Untuk menghilangkan rasa khawatir, saya masuk ke kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan sholat sunah dua roka’at. Setelah itu saya pergi tidur.

Sekitar jam 2.00 pagi terdengar suara benda keras dilemparkan di jendela kaca depan, membuat saya terjaga dari tidur. Setelah saya membuka pintu kamar, asap mengepul menyerang saya diiringi teriakan “Keluar lu PKI!” Teriakan itu saya balas juga dengan teriakan untuk membangunkan orang tidur, seolah-olah markas itu dihuni banyak jama’ah. Hampir saja saya dan Riyanto pingsan akibat menghirup asap, kalau kami tidak cepat-cepat masuk kamar mandi untuk berwudhu. Wudhu membuat badan saya tegar kembali. Kemudian saya mengambil anak panah untuk melakukan perlawanan, tapi dicegah Riyanto dan mengajak saya naik ke genteng dari lubang langit-langit di dalam markas. Setelah berhasil naik ke genteng dan berada di posisi atas genteng, saya berdiri bagaikan jagoan yang siap bertempur dengan musuhnya. Melihat saya berada di atas genteng, aparat yang menyerbu berkata kepada saya “Turun lu PKI!” Teriakan itu dijawab Riyanto: “Siapa yang PKI, Bapak yang PKI!” Selesai menjawab teriakan petugas, Riyanto langsung melompat ke genteng rumah sebelah, saya juga ikut melompat. Sayang, saya tidak bisa langsung sampai ke wuwungan, merosot, berguling di genteng, membuat penghuni rumah bangun ketakutan. Mereka mengira penjahat masuk ke dalam rumah. Hampir saja saya jatuh dari atas genteng. Namun setelah saya bertakbir (Allahu Akbar), tubuh saya seperti didorong-dorong ke atas sehingga akhirnya saya sampai juga di atas wuwungan genteng bersama Riyanto.

Di atas wuwungan genteng itu kami buka baju agar tidak jelas terlihat petugas yang mengepung kami. Lalu kami berpelukan sebagai tanda perpisahan dari sebuah perjuangan. Karena kami sudah berada di antara hidup dan mati. Setelah berpelukan, kami lalu berpisah untuk menyelamatkan diri masing-masing. Saya turun dari atas wuwungan genteng. Riyanto turun dari arah yang berbeda.

Ketika berada di pelataran halaman rumah belakang, saya melihat ada pintu keluar, saya bergerak ke arah pintu tersebut dengan merangkak, dengan harapan bisa meloloskan diri dari kepungan aparat. Pintu itu tidak langsung saya buka, tapi saya intip dulu dari celah-celah pintu. Bagai disambar petir di siang bolong terlihat para petugas yang mengepung telah siap dengan senjata diarahkan ke pintu itu.

Karena situasi tidak memungkinkan saya untuk lolos lewat pintu belakang, saya berbalik ke arah semula. Badan sudah terasa sangat letih. Lalu saya melirik ke jam tangan, jam 4.00 pagi menjelang subuh! Dalam situasi kurang jelas terlihat sebuah bangunan. Tembok kamar mandinya di bagian belakang tidak terlalu tinggi. Di sekitarnya ada rumpun pohon pisang. Saya bergerak menuju ke sana untuk melepas lelah dengan harapan tidak terlihat aparat yang mengepung. Sambil menunggu saat aman. Saya bersandar ke di dinding tembok dengan tangan bergelantung di atas tembok.

Tidak beberapa lama pihak aparat memasuki halaman belakang rumah dan memusatkan perhatian ke tempat persembunyian saya yang jaraknya sekitar sepuluh meter. Saya sudah tidak dapat berbuat sesuatu karena badan sudah sangat letih, hanya bisa pasrah kepada Allah antara hidup dan mati. Ketika pandangan mata saya tertuju ke arah petugas, mata petugas juga tertuju kepada saya dan langsung berseru: “Ini dia orangnya, gua tembak luh!” Dan “door” peluru menembus kaki saya, tanpa memberi peringatan lebih dulu, tanpa didahului tembakan ke atas.

Tembakan tersebut langsung membuat saya jatuh dari atas tembok kamar mandi sambil mengucapkan takbir (Allahu Akbar), bersamaan dengan kumandang suara azan subuh di masjid di sekitar tempat itu.

Ketika saya terjatuh bersimbah darah, petugas itu ingin menembak sekali lagi. Tetapi dilarang komandannya dengan mengatakan: “Sudah cukup!” Dalam keadaan tak berdaya saya diseret aparat dari TKP (Tempat Kejadian Penembakan) menuju kendaraan yang sudah siap sekitar lima puluh meter dari TKP. (hal. 75-77)

KETIKA mengenang kembali masa-masa itu, kini saya justru bersyukur karena rencana perang lanjutan itu tidak jadi kenyataan. Sebab, betapa dahsyatnya bila hal itu benar-benar terjadi. Berapa banyak korban lagi yang akan terbunuh tanpa mengerti apa yang sesungguhnya terjadi.

Sumber:
Share:

EDI ARSADAD alias UJANG: Exploiting the Talangsari Case of 1989


Published on May 15, 2017
Who is Edi Arsadad?

He often goes by the nickname Ujang, and is one of Azwar Kaili’s sons. On several occasions, this father and son have claimed to be victims of the Talangsari Incident of 1989.

Ujang was born in Sidorejo, East Lampung, on October 18, 1977. This graduate of the Sidorejo Education Foundation (YPS) High School of Sidorejo, East Lampung, lives in the Rejo Makmur Hamlet of Sidorejo Village, in the Sekampung Udik District of East Lampung.

Azwar Kaili’s other two children are Iwan and Haris. Azwar Kaili, who was born in Pariaman, West Sumatra in 1942, also has an adopted son named Warsito.

Before the Talangsari Incident of 1989 took place, Azwar Kaili and his three sons, namely Ujang, Iwan and Haris, and his adopted son Warsito, were active in the religious study group led by Abdullah.

Abdullah alias Dullah is an activist of the Islamic usroh movement of Abdullah Sungkar in Central Java, a figure who fled from the authorities to Lampung, facilitated by Zamzuri.

Despite being a teenager at the time, Warsito, Azwar’s adopted son, was trained by Abdullah as a future Jihadist. Warsito and some of his peers became militants as a result of Abdullah’s teachings, and were later involved in the Talangsari case of 1989.

Haris and Ujang, who were also educated by Abdullah, went on to become criminals. The two were arrested by the police for fencing stolen motorcycles in Lampung. Ujang currently works for KONTRAS (The Commission for Missing Persons and the Victims of Violence).

One of Ujang’s activities is to work with a group of people he claims are victims and family members of victims from the Talangsari Incident of 1989. Ironically, these people are not recognized as victims or the families of victims by the people of Talangsari.

In truth, no one from the original Talangsari III community were involved in the Talangsari Case of 1989, whether as perpetrators or victims.

Ujang’s exploits are more motivated by his criminal intent to raise money for personal profit, not on feelings of compassion. He may have inherited this characteristic from his father, Azwar Kaili.

On the online media, Ujang is active as head of the East Lampung Bureau of the newslampungterkini.com website.
Share:

AZWAR KAILI Saksi dan Korban Palsu Kasus Talangsari 1989


Published on Mar 25, 2017
Azwar Kaili sosok kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, pada tahun 1942 ini kerap muncul setiap ada gerakan KONTRAS yang mengeksploitasi kasus Talangsari 1989.

Sejak belia, ia sudah mempunyai watak berkhianat kepada pemerintah Republik Indonesia.

Meski belum tamat SMP, Azwar Kaili muda sudah menjadi anggota Tentara Pelajar Pasukan PRRI atau Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia yang berpusat di Padang, Sumatera Barat.

PRRI dideklarasikan pada tanggal 15 Februari 1958 di Padang, Sumatera Barat, di bawah pimpinan Letnan Kolonel Ahmad Husein. PRRI adalah sebuah gerakan revolusi yang ingin menegakkan negara baru. Namun gerakan makar itu berhasil ditumpas oleh pemerintah Republik Indonesia.

Pada tahun 1959, Azwar Kaili merantau ke Tanjung Karang, dan kemudian menjadi agen rokok cap Gentong.

Setelah tujuh tahun menetap di Tanjung Karang yaitu pada tahun 1966, Azwar Kaili kembali ke Pariaman, Sumatera Barat, untuk menikah.

Satu tahun setelah itu, pada tahun 1967, Azwar Kaili kembali ke Tanjung Karang. Karena usaha agen rokoknya bangkrut, Azwar membuka warung nasi masakan padang. Usaha ini pun tidak berhasil, maka Azwar memutuskan menjadi pedagang kain keliling.

Lelah menjadi pedagang kain keliling, pada tahun 1969 Azwar bersama masyarakat pendatang lainnya membuka lahan untuk dijadikan pemukiman, yang kini dikenal dengan Desa Sidorejo, berdekatan dengan kawasan Hutan Lindung Gunung Balak.

Di Desa Sidorejo, Azwar berjualan obat-obatan dan menjalankan praktik sebagai mantri kesehatan ilegal.

Pada tahun 1989, ketika terjadi geger Talangsari, Azwar termasuk ikut ditahan selama tiga bulan, karena dilaporkan oleh masyarakat bahwa ia adalah bagian dari jama’ah Warsidi. Berdasarkan bukti-bukti yang kuat, Azwar pun diamankan oleh aparat yang berwenang.

Salah satu bukti kuat keterlibatannya adalah keaktifan Azwar memberi pendidikan kesehatan secara cuma-cuma kepada anggota kelompok Warsidi di rumah Zamzuri.

Zamzuri adalah sosok yang memfasilitasi Abdullah, saat aktivis Gerakan Usroh Abdullah Sungkar Jawa Tengah buron ke Lampung, menghindari kejaran aparat.

Azwar Kaili bersama ketiga anaknya yaitu Iwan, Haris dan Ujang alias Edi Arsadad serta Warsito anak angkatnya, aktif mengikuti pengajian yang dipimpin Abdullah.

Watak pengkhianat yang memang sudah dimiliki Azwar Kaili sejak belia ini, semakin menguat bersamaan dengan tumbuh kembangnya jama’ah Warsidi yang memang berniat mendirikan negara Islam, berpisah dari NKRI.

Bahkan, watak Azwar Kaili sebagai pengkhianat kepada bangsa dan negara sendiri, kembali tersalurkan dengan menumpang kiprah KONTRAS yang berupaya menjadikan kasus Talangsari 1989 sebagai komoditas dengan dalih Hak Asasi Manusia.

Sukardi, salah satu perancang dan pelaku kasus Talangsari 1989 yang pernah bergabung dengan KONTRAS, menyatakan bahwa selama berada di KONTRAS ia mendapat doktrin untuk selalu memusuhi pemerintah dan Tentara Nasional Indonesia.
Share:

Peristiwa Talangsari 1989: Kesaksian Tiga Prajurit TNI







BANDARLAMPUNG, SENAYANPOST.com – Ketika peristiwa Talangsari meletus pada  7 Februari 1989 di Way Jepara, Lampung Timur, tiga prajurit TNI; Sertu Jufri, Serda Sutopo, dan Serda M.  Syukur masih belia dan berpangkat Prajurit Dua (Prada). Sampai dengan hari ini, mereka masih ingat betul peristiwa yang terjadi 28 tahun lalu itu.

Serda Sutopo sering merasa jengkel manakala membaca berita di media massa tentang peristiwa Talangsari 1989 yang bersumber dari kelompok tertentu. Kelompok tertentu itu ada yang mengatasnamakan aktivis HAM dan sebagainya. Intinya mereka cenderung memposisikan aparat sebagai pihak pelaku kekerasan terhadap warga sipil.

Padahal, menurut Sutopo, aparat sudah mengikuti prosedur baku dan berusaha semaksimal mungkin menghindarkan tindak kekerasan.

“Kami sudah beri peringatan melalui pengeras suara, agar Jama’ah Warsidi kooperatif dan mau menyerahkan jenazah Kapten Sutiman, Danramil Way Jepara, yang tewas dibunuh mbah Marsudi kakak kandung Warsidi,” tegas Serda Sutopo.

Pernyataan itu dikemukakan Serda Sutopo di Bandarlampung, Kamis (9/3/2017) di sela “reuni” antara prajurit TNI yang bertugas di lokasi kejadian dengan Sukardi dan Sudarsono, perancang dan pelaku geger Talangsari 1989.

Meski sudah diberi peringatan lanjutan dengan menembakkan peluru hampa ke udara,  Jama’ah Warsidi bergeming. Bukannya takut,  mereka malah maju menyerang aparat dengan berbagai senjata,  seperti bendorit dan panah beracun.

GUBUK TERBAKAR

Menurut Serda M.  Syukur, kedudukan aparat saat itu tetap berada di posisi yang semestinya. Begitu juga ketika tiba-tiba gubuk jama’ah Warsidi terbakar, posisi aparat cukup berjarak.

Menurut Sukardi, gubuk-gubuk tersebut sengaja dibakar Alex alias Muhammad Ali,  anggota Jama’ah Warsidi yang menguasai logistik termasuk bahan bakar.

Hal ini diperkuat Sudarsono,  yang mengakui bahwa kepada setiap anggota Jama’ah Warsidi ditanamkan doktrin lebih baik mati syahid ketimbang jatuh ke tangan musuh yang dianggap kafir. Membakar gubuk adalah upaya untuk mendapatkan mati syahid.

Sertu Jufri menepis tudingan bahwa aparat melakukan serangan via udara. Sehari setelah kejadian, Pangdam Sriwijaya mendatangi lokasi.  Namun pesawat yang ditumpanginya tidak sampai mendarat karena mendapat info bahwa Kodim diserang kelompok tertentu.

sumber:
https://www.senayanpost.com/peristiwa-talangsari-1989-kesaksian-tiga-prajurit-tni/
Share:

EDI ARSADAD alias UJANG Memanfaatkan Kasus Talangsari 1989


Published on Mar 10, 2017
Siapa Edi Arsadad? Sebelumnya sosok ini lebih dikenal dengan nama UJANG. Ia adalah salah satu putra Azwar Kaili. Bapak dan anak ini di berbagai kesempatan sering mengaku-ngaku sebagai korban peristiwa Talangsari 1989.

Ujang lahir di Sidorejo, Lampung Timur pada tanggal 18 Oktober tahun 1977. Lulusan SMA YPS Sidorejo, Lampung Timur ini bertempat tinggal di Dusun Rejo Makmur RT 009 RW 003, Desa Sidorejo, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur.

Selain Ujang, anak Azwar Kaili lainnya adalah Iwan dan Haris. Azwar Kaili sosok kelahiran Pariaman, Sumatera Barat tahun 1942 ini juga mempunyai anak angkat bernama Warsito.

Sebelum Geger Talangsari 1989 terjadi, Azwar Kaili bersama ketiga anaknya yaitu Ujang, Iwan dan Haris serta Warsito anak angkatnya, aktif mengikuti pengajian yang dipimpin Abdullah.

Abdullah alias Dullah adalah aktivis Gerakan Usroh Abdullah Sungkar Jawa Tengah yang buron ke Lampung, dan difasilitasi oleh Zamzuri.

Warsito anak angkat Azwar, meski saat itu masih berusia belasan, sudah dibina oleh Abdullah sebagai calon Mujahid. Warsito dan beberapa teman sebayanya sudah menjadi sosok yang militan akibat binaan Abdullah, dan kemudian terlibat kasus Talangsari 1989.

Haris dan Ujang yang juga binaan Abdullah, justru menjadi pelaku KRIMINAL. Keduanya pernah ditangkap polisi karena menjadi PENADAH SEPEDA MOTOR CURIAN di Lampung. Sekarang Ujang bekerja untuk KONTRAS.

Salah satu kegiatan Ujang adalah melakukan pendampingan terhadap sekelompok orang yang diakuinya sebagai keluarga dan korban peristiwa Talangsari 1989. Namun ironisnya, sekelompok orang itu oleh masyarakat Talangsari sendiri tidak diakui sebagai korban dan atau keluarga korban.

Karena sesungguhnya, masyarakat asli Talangsari III tidak ada yang terlibat kasus Talangsari 1989, tidak terlibat sebagai pelaku, dan tidak pula menjadi korban.

Kiprah Ujang itu sendiri, lebih didorong oleh watak kriminalnya dalam rangka menggalang dana untuk kepentingan pribadi, bukan dilandasi oleh rasa kemanusiaan. Sifat itu boleh jadi menurun dari bapaknya, Azwar Kaili.

Di media online, Ujang aktif sebagai kepala biro Lampung Timur pada situs newslampungterkini.com.
Share:

Popular Posts

Labels

Recent Posts